Adapun bagian perpustakaan tanpa buku, tertulis rapi pada guratan di telapak tanganmu. Setiap garisnya adalah bab tentang lelah, setiap kapalan adalah sajak tentang tabah.
Kau adalah tiang yang menolak rapuh, saat badai hidup datang menderu keruh. Tak pernah kau ajarkan aku cara mengeluh, hanya cara tegak berdiri meski keringat membasuh.
Dunia mungkin hanya melihat punggungmu yang kian membungkuk, tapi bagiku, itu adalah jembatan yang kokoh terpuruk. Tempatku menyeberangi jurang ketakutan, menuju masa depan yang kau rajut dengan penuh harapan.
Ayah, Terima kasih telah menjadi payung yang tak pernah menutup, meski kau sendiri basah kuyup oleh dinginnya hidup. Dalam diammu, ada doa yang paling bising di langit, memastikan langkahku selalu jauh dari pahit.
Komentar
Tulis komentar baru