arena teduh, tiada bising tiada gaduh
angin semilir berputar perputar
menukar pandangan yang samar
aku kembali menikmati akrabnya
di belakangkau gunung kecil tertidur pulas
berselimut hijau
mengapitku mesra
dan ditatap mataku semak-semak berjejal
sedang di atas rambut
garis-garis jingga terpancar menyebar
dengan bercak awan dan rembulan suram
yang tak terlukis di kanvas pelukis
berdencing pancuran kecil di atas ranting
yang patah berserakan
dan deru nyamuk memancang telinga
yang tak terpanggungkan di pentas suara
pun tak tertuang pada pena sastrawan
aku tertegun, tak kuat bicara
ternyata diri ini butiran batu bata
trenggalek, januari 1985
Komentar
Tulis komentar baru