Lantunan ayat-ayat cinta itu kembali hadir dalam kemarau hatiku yang kian gersang, dua ratus ayat cinta itu menggantikan sembilan puluh delapan harapan yang hanya menjadi kenangan yang kian menyesakkan. Kini seratus dua harapan baru telah menjemputku untuk menjadi wanita yang paling sempurna setelah jubah hitam sempat menyelimutiku saat aku merasa benar-benar rapuh.
Iri kepada dunia yang selalu menyediakan payung bagi orang tua, sementara anak-anak dibiarkan kehujanan oleh kesalahan yang bukan seluruhnya milik mereka.
Komentar Terbaru