Sejak mataku hanya mencuri cantikmu,
bibirku beku terkunci malu.
Meski di angan kujamahimu lekat,
Hati kumbangku terlalu takut untuk mendekat.
Suatu sore yang tenang kau menghilang.
Aku dihantam cemas dirangkul ketakutan.
Hingga kuberhenti di sebuah meja, kupungut kepingan bayangmu di secarik surat.
Diatas meja itu,
kotak putih berisi kertas beralamatkan Kumbang dari Melati.
Segera kutelanjangi lalu kubawa terbang isinya,
di atas awan kumakan perlahan dan kunikmati sendiri.
Dalam ruang putih bergaris kita akhirnya bertemu.
Aku dan kamu, hanya ada kita berdua.
Berbincang, bernyanyi, beradu canda tanpa saru dan malu menghalangi.
Selanjutnya di ruang itu kita selalu bercumbu.
Komentar
Tulis komentar baru