Skip to Content

Puisi kontemporer

Tata Kata

Ibuku lebih menyukaiku untuk membawa proses

Oleh karena itu, Ibuku sangat suka berkata-kata, tanpa menjelaskan spesifikasinya:

Jangan lupa shalat

Jangan lupa makan

Bukan Kandidat

Mari berhitung

Satu, dua dan berhenti di angka 25

Masihkah tahun depan hitungan tersebut bertambah?

Atau Tuhan hanya akan mengajariku sampai di angka itu?

Sisa Cintamu!

Sisa Cintamu

 

Lalu rentetan pengemis datang setelahmu

Dengan wajah polos memintaku

Harap cemas akan jawabanku

Fajar Menghilang

Fajar Menghilang!

Aku menantimu sebagai bumi yang sekarat

Fajar yang dulu terbit  dilangit hati

Membuat hidupku yang gelap

PAGI INI

Pagi ini aku menyisir rambutku ditemani segelas kopi

Manis,

Cuit gagak hitam saja berseri sekali

 

Pagi ini kepul asap kopi membawaku pada peta dan berita

FITNAH

Kusampaikan lukaku pada pisau p

TELANJANG

Kutulis suara dengan ludah
tanpa alinea dalam daging; sebab “harus” diakhiri lewat akibat.
Mati; bagiku titik
Berhenti seruncing nafas, berhembus khianati nyawa.
Hingga derai

Balada Si Tua Peminta-minta

Lelaki tua lusuh dan berbau


Berjalan tertatih memasang wajah nan sendu


Bermodal menengadahkan tangan  memelas kasihan

Setetes Air

Satu tetes satu anak

Satu anak satu tetes

 

Dua tetes dua anak

Dua anak dua tetes

 

Tiga tetes tiga anak

Tiga anak tiga tetes

Sindikasi materi


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler