Pada beberapa ketika di angka-angka dinding yang tak sempat tercatat jeli,
kusadari,
keduanya tak pernah setuju mengangguk untuk satu restu
Aku bahkan telah meninggalkan pertanyaan penuh cacian di pangkuan Tuhan
Menyumpahi diri atas ketiadaan jawaban Lalu pada sebuah siklus musim yang kembali,
dadaku melonjak-lonjak menemukan kemarau
:ialah kemarau yang mengajak engkau
Lalu perempuan itu, yang hela nafasnya mampu menumbangkanku,
membukakan pintu
Mempersilahkan kamu masuk dan duduk
Juga lelaki yang air matanya mengering di bajuku,
begitu saja berkenan merapal do'a
Di ujung pancaroba (meninggalkan pranata mangsa) Tuhan dan Emak pula Ayahku berembuk mesra
Mengusap harap di dahi kita
Komentar
Tulis komentar baru