Sajak sebatang lisong
dia kini tak ada lagi
dari telinga jutaan rakyat Indonesia
Maria zaitun. Sudah di puncak langit tertinggi
raja singa, meleburnya tak sampai neraka
nyayian angsa terkenang saat malam yang begitu panjang,
rebah tertidur bersama airmata lokalisasi remang-remang telanjang
menuntut keadilan dari penderitaan yang panjang
Perlawanan terus membakar jiwa pemuda
meja-meja dari kayu tua
bekas sisa rumah gubuk yang rapuk
digelarnya oleh para pemuda-pemudi
siapa lagi kini penyair!
yang suaranya serak akibat dahaga matahari
yang matanya menyala sebab penyaksian sejarah
bukan yang berkeliaran memoles gincu
dan menelan ludah
bokong maria selanjutnya abad dua dua
Kesakian disaksikan oleh mata hati
mereka yang duduk dan tidur beralaskan kardus coklat
lambungnya berisikan angin-angin jalanan
iya. anaknya selusin dua belas kepalan
rumahnya desa yang tertinggal zaman
berlari ke kota mencari ibunya yang pergi tanpa pesan
tekhnokrat tentu melihat penderitaan buddha
namun, ia enggan bercerita kepada sisi zaman
simposium sepi dari raut wajah pemikir
mereka termakan perasaan selangkangan
yang dihadirkan pejabat-pejabat hotel bintang lima
aku, sudah di luar sekarang
menjahit buku-buku yang robek
Dunia peendidikan sudah menjadi industri
jalanan bukan lagi menjadi papan tulis catatan,
aspal jalan bergaris hitam-putih kebutaan
masih ada lagi yang cacat tanpa tangan
yang tuli sejak kelahiran
kakinya hanya tinggal satu
dua bola matanya buta
"titik sepi" Malaikat terus saja tertawa
sambil membawa tongkat berkepala naga
begitu banyak persoalan di kepala bangsa
mari, kita cerna sampai desa-desa
kepadamu kuserahkan sebatang sajak ini
teruskan sisa obor apisenja perjuangan
dari puisi-puisi yang terbuang,
atau yang sudah bersemayam terbang
Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Sebatang Sajak Yang Cacat", Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/raka34224/6871f21434777c3a1570c1e2/sebatang-sajak-yang-cacat
Kreator: ???????????????? ????????????????
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com
Sajak sebatang lisong
dia kini tak ada lagi
dari telinga jutaan rakyat Indonesia
Maria zaitun. Sudah di puncak langit tertinggi
raja singa, meleburnya tak sampai neraka
nyayian angsa terkenang saat malam yang begitu panjang,
rebah tertidur bersama airmata lokalisasi remang-remang telanjang
menuntut keadilan dari penderitaan yang panjang
Perlawanan terus membakar jiwa pemuda
meja-meja dari kayu tua
bekas sisa rumah gubuk yang rapuk
digelarnya oleh para pemuda-pemudi
siapa lagi kini penyair!
yang suaranya serak akibat dahaga matahari
yang matanya menyala sebab penyaksian sejarah
bukan yang berkeliaran memoles gincu
dan menelan ludah
bokong maria selanjutnya abad dua dua
Kesakian disaksikan oleh mata hati
mereka yang duduk dan tidur beralaskan kardus coklat
lambungnya berisikan angin-angin jalanan
iya. anaknya selusin dua belas kepalan
rumahnya desa yang tertinggal zaman
berlari ke kota mencari ibunya yang pergi tanpa pesan
tekhnokrat tentu melihat penderitaan buddha
namun, ia enggan bercerita kepada sisi zaman
simposium sepi dari raut wajah pemikir
mereka termakan perasaan selangkangan
yang dihadirkan pejabat-pejabat hotel bintang lima
aku, sudah di luar sekarang
menjahit buku-buku yang robek
Dunia peendidikan sudah menjadi industri
jalanan bukan lagi menjadi papan tulis catatan,
aspal jalan bergaris hitam-putih kebutaan
masih ada lagi yang cacat tanpa tangan
yang tuli sejak kelahiran
kakinya hanya tinggal satu
dua bola matanya buta
"titik sepi" Malaikat terus saja tertawa
sambil membawa tongkat berkepala naga
begitu banyak persoalan di kepala bangsa
mari, kita cerna sampai desa-desa
kepadamu kuserahkan sebatang sajak ini
teruskan sisa obor apisenja perjuangan
dari puisi-puisi yang terbuang,
atau yang sudah bersemayam terbang
Kutanyakan sekali lagi kepadamu, Cinta!
Cinta Cinta Cinta
BUMI CINTA
Jogja - 2025
Komentar
Tulis komentar baru