Skip to Content

#Cerita Bersambung

URIP SEPISAN MATI SEPISAN (14) SELESAI

“Engkau telah bertemu dengan 48. 48 adalah AL-FATH. AlFath adalah Kemenangan. Kemenangan perjuanganmu 9 hari 9 malam semoga tidak kau rusak dengan keangkuhan. Tengoklah sejenak masa lalumu. Engkau menjadi lelaki hancur karena ketidakjujuran dan keangkuhanmu. Pertahankan kemenangan ini dengan sabar dan taqwa.

URIP SEPISAN MATI SEPISAN (13)

Diyah sekarang tidak terganjal dengan masalah uang. Dulu ketika awal bisnisnya ia selalu berharap lelaki gagah ini memberinya uang. Sekarang tidak. Yang penting lelaki gagahnya bisa menemaninya. Meski setengah malam tidak masalah daripada menghabiskan panjangnya malam dengan kesepian yang tidak pecah.

URIP SEPISAN MATI SEPISAN (12)

Matanya yang cekung yang tadi dipenuhi air mata hingga mengalir membasahi pelipisnya kini dipenuhi air mata lagi. Tangis apakah ini. Ia tidak tahu. Yang dirasakannya adalah dadanya yang terasa luas dan lepas.

URIP SEPISAN MATI SEPISAN (11)

Kamar itu kemudian sunyi. Diyah sudah tidak bisa menahan untuk melakukan sesuatu. Ia menarik lelaki gagah itu untuk memulai pertemuan mereka. Lelaki gagah mulai pendakiannya. Mungkin karena lelah pendakian yang masih belum pulih kali ini ia tidak seberingas biasanya.

Diyah sangat merasakan perubahan ini.

URIP SEPISAN MATI SEPISAN (10)

Banyak yang telah dipelajari lelaki hancur ini. Banyak yang ia alami. Makin dekat ke batas perjanjiannya ia main tenang berbaring di dahan. Dahan itu sekarang bukan hanya sekedar dahan. Itulah dirinya, itulah hidupnya. Jika pada beberapa hari pertama ua masih menjaga tidurnya untuk belajar menyimbangkan diri agar tidak jatuh, sekarang ia tidak terpengaruh lagi.

URIP SEPISAN MATI SEPISAN (9)

Malam gelap. Ia sudah tidak bisa melihat jalan. Tapi semangatnya bersama Allah Allah Allah mengajaknya tetap melangkah. Guruh telah bercampur angin. Ia sudah merasakan titik air hujan.

URIP SEPISAN MATI SEPISAN (8)

Hati yang tenang. Selalu menjaga keseimbangan kerja otak dan kerja hati, berpikir dan merasa. Tidak terlalu betah di dunia tidak takut, tidak khawatir akan kematian. Ketidakkhawatiran atas kematian, kehilangan, bukan hanya hiasan bibir tapi betul-betul tumbuh bersemi subur dalam pikiran dan perasaan yang seimbang, itulah muthma”inah.

URIP SEPISAN MATI SEPISAN (7)

Diyah itu korban ketidakhati-hatian atau ketidaktahuan ibu yang melahirkannya. Ketika masih bayi, masih menetek, ada tetesan air tetek yang jatuh di kelaminnya. Kejadian seperti fatal akibatnya. Wanita akan menjadi buas. Tidak pernah merasa puas. Ia bagai macan betina yang ganas. Tidak musim dingin tidak musim panas. Selalu beringas.

URIP SEPISAN MATI SEPISAN (6)

Ia mereguk habis air minumnya kemudian berbaring. Bibirnya masih bengkak. Bibir bengkak itu bercerita  dan ia mendengar cerita itu dengan jelas.

URIP SEPISAN MATI SEPISAN (5)

Dulu ia pencundang palsu karena masih bisa bersembunyi di dada kenyal wanita-wanita yang tidak mampu mengelak dari kilauan rupiah yang dihamburkannya.

Dan kini ia memulai perjalanan sebagai pecundang sejati.

Aku mengikutinya. Sekejap matapun aku tidak akan lepas.

Sindikasi materi


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler