Lantunan ayat-ayat cinta itu kembali hadir dalam kemarau hatiku yang kian gersang, dua ratus ayat cinta itu menggantikan sembilan puluh delapan harapan yang hanya menjadi kenangan yang kian menyesakkan. Kini seratus dua harapan baru telah menjemputku untuk menjadi wanita yang paling sempurna setelah jubah hitam sempat menyelimutiku saat aku merasa benar-benar rapuh.
“HAIRAN sungguh aku dengan orang sekarang!” Rasa kesal jelas terpancar di wajah Long Nah. Segala yang terbuku di hatinya selama ini bagaikan tidak tertahan-tahan lagi.
Lantunan ayat-ayat cinta itu kembali hadir dalam kemarau hatiku yang kian gersang, dua ratus ayat cinta itu menggantikan sembilan puluh delapan harapan yang hanya menjadi kenangan yang kian menyesakkan. Kini seratus dua harapan baru telah menjemputku untuk menjadi wanita yang paling sempurna setelah jubah hitam sempat menyelimutiku saat aku merasa benar-benar rapuh.
Malam telah menunjukkan pukul dua belas, angin berhembus pelan. Di sebuah rumah sederhana, Jaka berbaring memandang cahaya bulan yang menyusup melalui jendela. Suasana menjadi semakin dingin saat angin masuk ke dalam kamar.
Hujan deras membasahi bumi, sebuah sepeda motor melaju membelah kegelapan malam dengan penerangan seadanya, kuatnya hujan membatasi pemandangan ke depan memaksa penumpang motor mencari tempat berteduh.
Mereka singgah di sebuah rumah tua yang bercorak kolonial, hanya penerangan dari motorlah yang menyinari rumah tersebut.
Komentar Terbaru