tutup pintu itu perlahan
agar tak terganggu
lelap tidurnya.
ia terlampau lelah setelah
membangun istana
pasir di siang hari.
biarkan ia bawa sejenak
semua itu ke peraduan malam.
kini ia terluka akibat
perkelahiannya pertahankan
istana pasir dari sapuan ombak.
mimpimimpi yang dibelanya
dengan segenap
kesombongan dan maruah
memperparah leluka itu.
bertahun lukaluka itu
tak kunjung pulih.
sementara setiap
fajar selepas subuh,
istana pasir yang
dibangunnya runtuh
perlahan dikunyah
gigigigi ombak.
lukaluka itu nganga dan
sudah pun membusuk.
perlahan dan pasti belatung
akan berkediaman disana.
seribu tabib telah dijemput
tuk tuntaskan lukaluka itu.
namun semua menengadah
tanda tak mampu.
lukaluka di tubuhnya
segera pulih jika ia
berjaya menjejakkan
keduabelah kakinya
di tanah keramat ini.
namun ia tak rela biarkan
kakinya menginjak tanah:
kotor, berdebu dan
kadangkala berbau tahi sapi.
ia ingin terus berjalan
di udara kosong.
sambil memetik angan
di selasela atmosfer.
saat berjalan kepalanya
selalu tengadah tanpa
santun kepada tuhan.
seorang jirannya menegur :
“bung, menunduklah
bila melangkah karena
setiap langit dibatasi
dirinya sendiri.”
tapi ia teguh tak acuh.
meludahi tanah
yang rendahdiri.
ia ingin terus seperti itu
menjadi lelaki jumawa
pemetik nebula.
pada suatu pagi yang gigil,
lelaki yang terpenjara
impian sendiri itu
berpulang ditemani
sekumpulan belatung
yang rajin memamah
setiap jengkal tubuhnya.
Jogjakarta, April 2007
agar tak terganggu
lelap tidurnya.
ia terlampau lelah setelah
membangun istana
pasir di siang hari.
biarkan ia bawa sejenak
semua itu ke peraduan malam.
kini ia terluka akibat
perkelahiannya pertahankan
istana pasir dari sapuan ombak.
mimpimimpi yang dibelanya
dengan segenap
kesombongan dan maruah
memperparah leluka itu.
bertahun lukaluka itu
tak kunjung pulih.
sementara setiap
fajar selepas subuh,
istana pasir yang
dibangunnya runtuh
perlahan dikunyah
gigigigi ombak.
lukaluka itu nganga dan
sudah pun membusuk.
perlahan dan pasti belatung
akan berkediaman disana.
seribu tabib telah dijemput
tuk tuntaskan lukaluka itu.
namun semua menengadah
tanda tak mampu.
lukaluka di tubuhnya
segera pulih jika ia
berjaya menjejakkan
keduabelah kakinya
di tanah keramat ini.
namun ia tak rela biarkan
kakinya menginjak tanah:
kotor, berdebu dan
kadangkala berbau tahi sapi.
ia ingin terus berjalan
di udara kosong.
sambil memetik angan
di selasela atmosfer.
saat berjalan kepalanya
selalu tengadah tanpa
santun kepada tuhan.
seorang jirannya menegur :
“bung, menunduklah
bila melangkah karena
setiap langit dibatasi
dirinya sendiri.”
tapi ia teguh tak acuh.
meludahi tanah
yang rendahdiri.
ia ingin terus seperti itu
menjadi lelaki jumawa
pemetik nebula.
pada suatu pagi yang gigil,
lelaki yang terpenjara
impian sendiri itu
berpulang ditemani
sekumpulan belatung
yang rajin memamah
setiap jengkal tubuhnya.
Jogjakarta, April 2007
Komentar
Tulis komentar baru