Skip to Content

PULANG MENGAMEN

Foto Agung Gema Nugraha
files/user/14117/IMG20251231183652_0.jpg
IMG20251231183652.jpg

PULANG MENGAMEN

 

Sore,

Kita bertatap lagi neng

Ini puisiku yang tak guna

Tapi aku cinta

Sastra Indonesia

Negara kita kaya budaya

Jangan disia-siakan

 

Kamu sedang ngopi neng

Biar kutemani kalau boleh

Sebanarnya aku pengen bicara

Dunia puisi kita saat ini

 

(Angin beringsut ngamuk-ngamuk

Menyelinap ke ketek bajuku

Awan wajahnya merengut 

persis jeruk purut)

 

Masalah terbesar adalah ego

untuk kepentingan diri sendiri

kelompok, komunitasnya

Kita tidak luas memandang

sehingga orang cendekia

malah terjepit mengikuti sistem

aturan yang dibakukan.

Menilai puisi sekehendaknya

Suka-suka bagaimana mereka suka

Sungguh subjektif berlebihan

Bukan salah tapi kurang pas

 

Berlian

awal mula diambil dari penambangan

sebagaimana emas

Bukan langsung dari toko

Mungkin bisa paham

Sesuatu yang berharga maksud saya

Adalah dari alam bebas 

begitulah dan seterusnya.

 

Terlalu kaku jika harus mengikuti sistem

Seorang dianggap sastrawan dikenal

Karena dikarbit komunitasnya 

Agaknya saya tidak sepaham

 

(Kopi terkaca wajah gelap

Roko padam wajah muram)

 

Neng kamu sakit mukamu kebiruan

…..

Jadi neng

kita mesti bisa memberi penghargaan

kepada puisi yang dikarang siapa pun

bahkan orang yang tidak dikenal

bukan sekedar di komunitas, kelompok

golongannya saja yang dalam bimbingan 

lingkaran mereka. Seperti partai saja.

 

Hehe kamu senyum

Kebiruanmu hilang neng

 

Kamu terlihat senang bicara politik

Ya jadi memang sastra kita bisa jadi

Sudah masuk wilayah politik

Atau materialisme 

Artinya tak ada biaya tidak jadi sastra

Hehe maksud saya pujangga

 

Kalau sudah begini

Ya suramlah masa depan

Pantas saja malas untuk berkarya

Toh berkarya pun mesti punya nama

Dan nama harus dibeli bukan begitu?

Ya sedikit berkonspirasi 

Atau bisa dikatakan asumsi saja

 

Tidak perlu tersinggung.

 

(Gunung tinggi rendah lembahnya

Lautan luas keras karangnya

Setiap pandangan biar bebaskan

Agar didapat macam pengetahuan)

 

Ini namanya teori bisa jadi.

Demokratis itu kita mesti berpikir kritis.

Dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.

 

Dunia kepenyairan harus agak dibenahi

Agar ada kemajuan.

Bukan sekedar lomba, lomba dan lomba. 

Apalagi kalau lombanya biaya biaya 

Akhirnya jadi buaya.

 

Haha neng gigimu terlihat putih

Berkilatan kamu rajin sikat gigi

Keren neng …buaya ya buaya 

Kaya aku neng waw waw waw

 

Kalau sudah jadi buaya

Apa guna daya kreatifitas?

Toh ada buaya

Buaya diam diam menghanyutkan

Buaya berkarya cuma jadi sampah

Puisi saya sampah 

Banjir sampah

Di internet, di kota dan di desa

Sampah harusnya dipungut

Sampah mestinya diolah

Sampah jangan mengotori sampah

Sampah menumpuk

Jadi bukit

Jadi parit

Jadi telaga

Ya telaga sampah

Sampah merekah ke atmosfer

Ke lapisan stratosfer 

membelah ozon

Akhirnya ke satelit bumi

Ke matahari

Ke bima sakti

Penuh sampah

Sampah bergedung gedung

Gunung menggunung

Ke sebelas planet 

Mengotori tiga belas zodiak

Sampah memuncratkan bakteri

Bakteri menggerogoti meteor

Sampah mengembangkan virus

Virus dan bakteri kawin

Bersenggama lahir alien

 

Alien akan memakan sampah

Memuntahkannya menjadi belerang merah

Darisitulah kembali lahir perpuisian

Termasuk puisiku neng

Akhirnya punya harapan

Cuma masalahnya adalah waktu

Kita terlalu terburu-buru

Ada baiknya bersabar ya neng

Hehe maaf aku terlalu berhalu

 

Hujan turun

Bagai percikan air mata langit

Malak metatron mengawasi

Tujuh raja terfana berdiri

 

Neng aku sudahi ceritaku

Kapan-kapan kalau bertemu

Kita berbincang kembali

 

Selamat sore neng

 

 

 

Agung Gema Nugraha

3 Januari 2026

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler