PULANG MENGAMEN
Sore,
Kita bertatap lagi neng
Ini puisiku yang tak guna
Tapi aku cinta
Sastra Indonesia
Negara kita kaya budaya
Jangan disia-siakan
Kamu sedang ngopi neng
Biar kutemani kalau boleh
Sebanarnya aku pengen bicara
Dunia puisi kita saat ini
(Angin beringsut ngamuk-ngamuk
Menyelinap ke ketek bajuku
Awan wajahnya merengut
persis jeruk purut)
Masalah terbesar adalah ego
untuk kepentingan diri sendiri
kelompok, komunitasnya
Kita tidak luas memandang
sehingga orang cendekia
malah terjepit mengikuti sistem
aturan yang dibakukan.
Menilai puisi sekehendaknya
Suka-suka bagaimana mereka suka
Sungguh subjektif berlebihan
Bukan salah tapi kurang pas
Berlian
awal mula diambil dari penambangan
sebagaimana emas
Bukan langsung dari toko
Mungkin bisa paham
Sesuatu yang berharga maksud saya
Adalah dari alam bebas
begitulah dan seterusnya.
Terlalu kaku jika harus mengikuti sistem
Seorang dianggap sastrawan dikenal
Karena dikarbit komunitasnya
Agaknya saya tidak sepaham
(Kopi terkaca wajah gelap
Roko padam wajah muram)
Neng kamu sakit mukamu kebiruan
…..
Jadi neng
kita mesti bisa memberi penghargaan
kepada puisi yang dikarang siapa pun
bahkan orang yang tidak dikenal
bukan sekedar di komunitas, kelompok
golongannya saja yang dalam bimbingan
lingkaran mereka. Seperti partai saja.
Hehe kamu senyum
Kebiruanmu hilang neng
Kamu terlihat senang bicara politik
Ya jadi memang sastra kita bisa jadi
Sudah masuk wilayah politik
Atau materialisme
Artinya tak ada biaya tidak jadi sastra
Hehe maksud saya pujangga
Kalau sudah begini
Ya suramlah masa depan
Pantas saja malas untuk berkarya
Toh berkarya pun mesti punya nama
Dan nama harus dibeli bukan begitu?
Ya sedikit berkonspirasi
Atau bisa dikatakan asumsi saja
Tidak perlu tersinggung.
(Gunung tinggi rendah lembahnya
Lautan luas keras karangnya
Setiap pandangan biar bebaskan
Agar didapat macam pengetahuan)
Ini namanya teori bisa jadi.
Demokratis itu kita mesti berpikir kritis.
Dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.
Dunia kepenyairan harus agak dibenahi
Agar ada kemajuan.
Bukan sekedar lomba, lomba dan lomba.
Apalagi kalau lombanya biaya biaya
Akhirnya jadi buaya.
Haha neng gigimu terlihat putih
Berkilatan kamu rajin sikat gigi
Keren neng …buaya ya buaya
Kaya aku neng waw waw waw
Kalau sudah jadi buaya
Apa guna daya kreatifitas?
Toh ada buaya
Buaya diam diam menghanyutkan
Buaya berkarya cuma jadi sampah
Puisi saya sampah
Banjir sampah
Di internet, di kota dan di desa
Sampah harusnya dipungut
Sampah mestinya diolah
Sampah jangan mengotori sampah
Sampah menumpuk
Jadi bukit
Jadi parit
Jadi telaga
Ya telaga sampah
Sampah merekah ke atmosfer
Ke lapisan stratosfer
membelah ozon
Akhirnya ke satelit bumi
Ke matahari
Ke bima sakti
Penuh sampah
Sampah bergedung gedung
Gunung menggunung
Ke sebelas planet
Mengotori tiga belas zodiak
Sampah memuncratkan bakteri
Bakteri menggerogoti meteor
Sampah mengembangkan virus
Virus dan bakteri kawin
Bersenggama lahir alien
Alien akan memakan sampah
Memuntahkannya menjadi belerang merah
Darisitulah kembali lahir perpuisian
Termasuk puisiku neng
Akhirnya punya harapan
Cuma masalahnya adalah waktu
Kita terlalu terburu-buru
Ada baiknya bersabar ya neng
Hehe maaf aku terlalu berhalu
Hujan turun
Bagai percikan air mata langit
Malak metatron mengawasi
Tujuh raja terfana berdiri
Neng aku sudahi ceritaku
Kapan-kapan kalau bertemu
Kita berbincang kembali
Selamat sore neng
Agung Gema Nugraha
3 Januari 2026

Komentar
Tulis komentar baru