Skip to Content

SASTRA, KORUPSI, DAN SANTRI

Foto encep abdullah

Radar Banten, 30 Maret 2017

SASTRA, KORUPSI, DAN SANTRI
Oleh Encep Abdullah

Bulan Oktober 2016 yang lalu saya diundang oleh Komisi Pemberantasan Korupsi dalam acara Teacher Super Camp 2016 di Bali. Acara tersebut dihadiri oleh 50 guru se-Indonesia. Saya mewakili SMA IT Darussalam Pipitan. Tentu ini bukan sekadar undangan cuma-cuma, melainkan hasil dari seleksi yang cukup ketat. Dari sekian pilihan yang ditawarkan oleh penyelenggara, saya memilih untuk mengirim naskah skenario film pendek remaja bertema korupsi dengan judul Anya dan alhamdulillah lolos.

Di Bali, saya dan peserta terpilih lainnya mendapat kesempatan mengikuti serangkaian acara, salah satunya pelatihan dan seminar antikorupsi. Kami disuguhi berbagai materi berkaitan dengan korupsi yang tentunya sesuai dengan profesi kami, yaitu guru. Para pemateri dan mentor-mentor dalam acara tersebut adalah orang-orang hebat dan pakar dibidangnya. Salah satu yang diundang adalah Helvy Tiana Rossa yang merupakan penulis, sastrawan, dan produser film. Kami mendapatkan banyak ilmu dan pencerahan dari para panelis.

Nah, ilmu yang kami dapatkan di sana, KPK berharap kami bisa mengaplikasikannya kembali di sekolah. Bisa dalam bentuk apa saja. Yang penting berkaitan dengan penanaman nilai antikorupsi. Selepas acara itu, beberapa kawan langsung melaksanakan serangkaian acara di sekolah mereka masing-masing. Ada yang membuat seminar antikorupsi, pelatihan kepenulisan antikorupsi, dan lain sebagainya. Saya yang kebetulan juga ditunjuk sebagai ketua dari kegiatan itu, selepas itu ditunjuk untuk mengurus grup WA dan fesbuk Teacher Super Camp 2016. Hal ini bertujuan agar silaturahmi kami tetap terjaga dan kami tetap konsisten berkarya, serta berbagi ilmu dan informasi. Salah satunya berkaitan dengan nilai-nilai antikorupsi.

Sebagai kepala suku, tentu saya malu kalau saya tidak membuat suatu gebrakan tertentu tentang nilai antikorupsi. Sesuai dengan minat dan kemampuan yang saya miliki, saya pun sedari awal sudah berencana untuk menerbitkan sekumpulan karya. Di luar sana, sudah banyak pula karya bertema antikorupsi, salah satunya sekerumun penyair yang menerbitkan buku Penyair Menolak Korupsi! Saya tak mau kalah, tepatnya ingin ikut berkontribusi sekait itu, yakni dengan membuat buku puisi yang juga bertema tentang antikorupsi di sekolahdi pondok pesantren.

Tahun ini, seperti biasa seperti tahun yang sudah-sudah (2015 dan 2016), saya menyuruh anak santri kelas 3 (III SMP) dan kelas 6 (XII SMA) untuk membuat puisi. Kali ini saya tugasi mereka menulis puisi tentang korupsi. Sebelumnya saya terangkan terlebih dahulu apa itu korupsi, jenis, dan hal-hal yang bisa dikategorikan korupsi. Alhamdulillah, beberapa dari mereka paham dan beberapa yang lainnya masih berkutat bahwa korupsi adalah kelakuan para pejabat yang mengambil uang rakyat dan negara, yakni disimbolkan dengan tikus-tikus kantor. Yang pada akhirnya, cara pandang semacam itu memengaruhi karya-karya mereka. Semua karya saya baca, satu sama lain berjudul dan berisi diksi yang sama. Seolah menjemukan. Namun, itulah wajah para koruptor di mata santri, pun barangkali kebanyakan siswa pada umumnya.

Baiklah, hal semacam itu tak perlu disoali. Biarkan karya mereka menjadi representasi dari pemikiran mereka tentang korupsi. Kelak mereka dewasamenjadi manusia sukses, pajabat, professor, atau apa sajamereka bisa menengok kembali tulisan mereka. Mereka pasti akan tertawa. Oleh sebab itu, menulis adalah bagian dari merekam ingatan dan pikiran yang telah tertuang dalam pikiran itu. Dengan puisi mereka merenung. Dengan puisi mereka belajar dan diajari moral. Atau seperti kata Taufiq Ismail dengan puisi aku mengutuk nafas zaman yang busuk. Apa itu zaman yang busuk? Salah satunya zaman yang dipenuhi dengan manusia-manusia edan dan serakah yang selalu tamak terhadap kekayaan dan kekuasaan. Siapa lagi kalau bukan koruptor.

Semoga dengan langkah saya dan sekolah menyusun buku ini, para santri bisa menjadi bagian estafet dan regenerasi manusia yang mampu menolak segala tindakan dan perilaku yang koruptif. Apalagi mereka sejak diniawal masuk di pesantrensudah ditanamkan nilai-nilai agama yang tentu ini bisa menjadi nilai tambah tersendiri untuk mengerem perilaku amoral yang bisa menyerang siapa saja itu.

Beralih kepada judul buku yang akan diterbitkan. Awalnya saya mau memberikan judul Santri Menolak Korupsi! Namun, rasanya kurang adil. Dalam buku yang akan diterbitkan itu, sebenarnya proyek utamanya adalah para santri yang mengikuti ekstrakurikuler menulis atau biasa menyebutnya Lingkar Potlot yang setia berkumpul saba Sabtu pagi. Tentu saja kelas IX dan XII harus berterima kasih kepada Lingkar Potlot yang telah menjembatani karya-karya mereka bisa masuk dalam buku yang akann diterbitkan tersebut. Sebagai pembimbing dan guru, saya tahu betapa sedih santri yang sudah lulus, tetapi tidak punya kenangan fisik. Maka, salah satu cara saya dan sekolah adalah dengan menerbitkan buku dari karya para santri yang mau lulus itu. Dengan bukti fisik dan tulisan itu, ingatan tentang sebuah kenangan barangkali bisa lebih impresif dihayati dalam jiwa mereka.

Dari alasan-alasan di atas, maka saya pilih Korupsi dan Negeri Tanpa Jam sebagai judul buku yang akan diterbitkan itu. Negeri Tanpa Jam adalah buah karya dari Imam Abdillah yang pernah memenangi juara III lomba cipta cerpen di Untirta tahun lalu. Sebagai bentuk rasa syukur saya dan sekolah, judul karya Imam saya sertakan dalam judul buku. Meski, saya juga tak meragukan karya anak Lingkar Potlot yang lain. Karya-karya mereka lain dari yang lain. Ini sengaja saya pisahkan agar pembaca tahu bahwa karya tersebut adalah buah karya santri Lingkar Potlot. Karya -karya itu berupa esai, puisi, dan cerpen. Awalnya ada resensi, tetapi dirasa para santri tak mumpuni menulis itu, saya hapus dari buku, dan mereka menulis karya yang lain. Alhamdulillah, karya-karya anak Lingkar Potlot cukup mewakili bahwa para santri Darussalam memiliki bakat yang hebat ihwal menulis dan berpikir. Semoga kelak, mereka menjadi manusia-manusia yang bisa melahirkan karya-karya besar yang bisa menggugah hati, perasaan, dan jiwa pembacanya. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat untuk orang lain? Dengan menulis, pikiran mereka bisa berkelana ke mana pun, bermanfaat untuk siapa pun. Maka, teruslah menulis wahai para pejuang peradaban! Tabik.

NB: Tulisan ini adalah epilog buku santri yg akan diterbitkan.

Encep Abdullah, alumnus Untirta dan aktivis Kubah Budaya.

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler