Lirih Hujan
di ujung malam yang masih perawan
aku dengar
derai-derai yang membisu dicelah rintik hujan yang turun perlahan
diam dan diam
duha bergulir diantara subuh-subuh yang terlupa
merangkak merobek celah mega merah
tersungkur bersimpuh diantara butir-butir tasbih
seperti penuh cahaya,
Malam, padamu menelikung
menghunus belati yang canggung,
"Dimana jantung?"
siapakah yang meriuhku, adakah sepi ?
menghalau angin memanah rembulan, dingin
mendesing hingga ke remangnya
sampai saat aku terlepas, benar.
KEBETULAN
mungkin hanya kebetulan saja hujan deras mengurung kita
di sebuah toko mainan yang menjadikan kita serupa boneka:
selagi bulan mekar
nubuat memperpanjang tujuan
dari arah kelam
tikungan tanpa hingga
kau cumbu aku dengan kecemasan
Kita yang tercegat di simpang itu, melorong sangsimu bercermin ke bilah pisau.
Kau yang melengkung ke pinggir mata, sedangkan aku melaju ke runcing tikam.
Sejak ia membiasa menghutan tunanya, didapatinya sepercik api
dari zulmat itu, sejak tingkah yang masih singgah, masih leceh, ke riwayat diri
Dalam keheningan malam
aku mengadu pada Mu
Namun..............
pantaskah diri ini ...
Ah ....
butiran air mata
menyusuri sluruh pori-pori
32.000 KAKI DI ATAS MASALEMBO
Ada gelegar panas dalam dingin malam,
Menjulurkan sepi di antara hiruk pikuk,
Komentar Terbaru