PUISI DARI SEORANG GELANDANGAN
Puisi ini lahir dari gelandangan
Yang terlunta-lunta di jalanan
Tanpa nama, pangkat, jabatan
apalagi pekerjaan
Bukan bangsawan keturunan
Masihkah ada yang mau mendengarkan?
Cinta berkabut
Kalut dalam duka cita mendalam
Bayangan samar berpencar
Menjadi kepingan mata-mata
yang hilang di kegelapan
Pujangga tidak mesti lahir
Dari tokoh ternama atau orang kaya
Begitu juga penyair, pembuat sajak
pemadah, pemuisi dan sastrawan
Pujangga lahir dari karya
Kepedulian dengan kalimat dan kata
Sastrawan bukan lahir dari uang
Tapi perbincangan unik mendalam
bersama bahasa seni, rasa dan kehidupan
Terbitlah syairku mengisahkan tentangmu
Karena ketidakadilan mesti dihentikan
Setiap orang bisa mencipta, berkarya
Dan menggunung namanya
sebagai pujangga atau sastrawan
Sarjana, orang biasa, pengamen
pengangguran ataupun gelandangan
Bisa mendapat penghasilannya
Bukan harus pejabat, tokoh,
orang ternama, guru besar, pengusaha
atau melulu berdarah biru
Itu membosankan
Hujan menyulap tanah menjadi subur
Matahari tiba menyinari bumi pertiwi
Angin menyampaikan kabar kepada sunyi
Bunga masa depan tumbuh bersemi
Bersastra wujud mengisi kemerdekaan
Agar keharmonisan bangsa dan negara
melalui seni ekspresi tetap terjaga
Budaya kita bina bersama
Sastra tak boleh mati sia-sia
Hanya sekedar latar belakang akademik
Atau status yang berbeda
Kita tak boleh memilah-milah
secara subjektif puisi dan prosa
Jujur menilai adalah ciri intelektual sejati
Pujangga salah satu tonggak kehormatan
setiap diri bisa mendapat penghargaan
penghasilan, ketenaran dari hasil karyanya
Berjayalah Indonesia
2 Januari 2025
Komentar
Tulis komentar baru