Skip to Content

PUISI DARI SEORANG GELANDANGAN

Foto Agung Gema Nugraha

PUISI DARI SEORANG GELANDANGAN

 

Puisi ini lahir dari gelandangan

Yang terlunta-lunta di jalanan

Tanpa nama, pangkat, jabatan 

apalagi pekerjaan

Bukan bangsawan keturunan 

Masihkah ada yang mau mendengarkan?

 

Cinta berkabut 

Kalut dalam duka cita mendalam

Bayangan samar berpencar

Menjadi kepingan mata-mata

yang hilang di kegelapan

 

Pujangga tidak mesti lahir

Dari tokoh ternama atau orang kaya

Begitu juga penyair, pembuat sajak

pemadah, pemuisi dan sastrawan 

Pujangga lahir dari karya

Kepedulian dengan kalimat dan kata 

Sastrawan bukan lahir dari uang

Tapi perbincangan unik mendalam

bersama bahasa seni, rasa dan kehidupan

 

Terbitlah syairku mengisahkan tentangmu

Karena ketidakadilan mesti dihentikan

Setiap orang bisa mencipta, berkarya

Dan menggunung namanya

sebagai pujangga atau sastrawan

Sarjana, orang biasa, pengamen 

pengangguran ataupun gelandangan

Bisa mendapat penghasilannya

Bukan harus pejabat, tokoh,

orang ternama, guru besar, pengusaha 

atau melulu berdarah biru

Itu membosankan

 

Hujan menyulap tanah menjadi subur

Matahari tiba menyinari bumi pertiwi

Angin menyampaikan kabar kepada sunyi

Bunga masa depan tumbuh bersemi

 

Bersastra wujud mengisi kemerdekaan

Agar keharmonisan bangsa dan negara 

melalui seni ekspresi tetap terjaga 

Budaya kita bina bersama

Sastra tak boleh mati sia-sia

Hanya sekedar latar belakang akademik

Atau status yang berbeda

Kita tak boleh memilah-milah

secara subjektif puisi dan prosa

Jujur menilai adalah ciri intelektual sejati

Pujangga salah satu tonggak kehormatan 

setiap diri bisa mendapat penghargaan

penghasilan, ketenaran dari hasil karyanya

 

Berjayalah Indonesia

 

 

 

 

2 Januari 2025

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler