Skip to Content

Juli 2019

Luk Ulo, Pelataran Rinduku

Senyum mentari menyita senja di ujung Gunung Paras.
Menyinari lembah antiklin Karangsambung yang merona nan perkasa.
Di Bukit Brujul, ku lihat awan biru berarak.

Andai Dia Datang Menjemputku

Bertalut awan di langit senja
Gelisah kian meraja
Ku hampar ribuan kata-kata mengurai jiwaku
Bersanding jingga meraba bayangmu
Sebentar gelap datang memanggil, penjarakan aku

SEPI DALAM INGIN

Aku gulung ombak dalam retak batinmu
Sejak pertamaku bertemu, kau sayu
Tiada sandaran bagi letih gelisahmu
Muram, suntuk, terbakar
Aku sediakan satu ember air kesejukan
Di kampung ini

Sekolah untuk hati

Hati bagiku adalah tempat pikiran dan ucapan bertemu

Bercerita tentang banyak hal...

Namun terkadang hati tdk bisa menerima niat pikiran

Bahkan terkadang marah mengapa apa yg di simpan hati

Tidak bisa di pahami pikiran...

Lidahpun dengan bebas akan berucap beda dari apa yang di inginkan hati..

Lalu aq berpikir...pikiran bisa di sekolahin..

Kalut

Ingin terbang
Sayap patah
Ingin melesat jauh
Jiwa rapuh

Ingin pecahkan sepi
Pecahkan kalut dalam diri
Ku bentak dinding-dinding bisu
Ku caci dan ku maki

Hitam

Pernah kita menghitamkan waktu
Bersembunyi dalam selimut lusuh berdebu
Biarkan gelap terus menghuni
Di hati...

Pernah kita sama-sama mengarungi

Luruh

Tuhan...
Otak ku kosong...
...tak sanggup berfikir lagi
Entah... buntu semua jalan...


Tuhan...
Hatiku hampa...
...tak sanggup merasa lagi

JINGGA ( hilang )

Tertegun wajah lusuh ini
Pandangi indahnya panoramamu
Pesona kedamaianmu... Jingga

Tersemat di relung hati
Ronamu teduhkan jiwaku
Kau basuh letihnya hari... Jingga

DERAI

Aku pilu mendengar kesiur cerca
seperti angin berpumpun di awang
dari kolong sebuah rumah kumuh
tempat sanak-sanak terlahir
telingaku tertangkup oleh gunung-gunung

SKAK MATI

Ikhtiar seberkas cahaya matahari
menembus sela kecil jendela
menyorot sepasang insan yang masyuk menebas waktu
peluh bersetubuh suata di memar kamar



Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler