Skip to Content

Puisi Kehidupan

KISAH LAMPAU

Telaga telah mengering
Menyapa kegersangan di balik tumpukan dedaunan kering
Asap membumbung menemani petani tua mengamuk hutan di perbukitan gersang

BULAN

Sayang tak bergeming

Bersembunyi meluruh di kandang ubun ubun

Menyeruak di waktu waktu surya meredup

Tinggallah pena satu bait kata tak tersampaikan

Jalur suram

JALUR SURAM

Bentuk yang tak bernyawa,
Tetapi bukan manusia

Tidak hidup,
Tetapi dia minta untuk mencekiknya

Seriang aku bermain dengan akalku
Aku bergumam
:Aku membencimu.

Kehidupan Zaman "Now"

Kehidupan masih merangkak

Butuh asupan dan kreatifitas

Kehidupan menuju ke atas

Dana berkurang entah kemana

 

Pertumbuhan jalan yang pesat

?

Aku,siapa?

Kamu,kenapa?

Dia,bagaimana?

Kita,dimana?

Pecundang

Mungkin kalian orang pintar
Tapi kalian sangat bodoh,
Jika kalian merasa pintar

Mungkin kalian orang hebat
Tapi pantas di sebut pecundang
karena mau enaknya sendiri

Ruang Ini

Mazmur bagimu membubung

meninggikan dirimu mengatasi langit

di ruang berpintu kaca ini

kemuliaanmu mengatasi bumi

seberkas kipasan angin

meniup tengkuk

Tatapan Itu

Masih pedih mengenangmu

lama tidak bersua

matahari telah lewat sepenggalah

angin turun mengayun

daun-daun cemara

 

C I N T A

Aku membiarkannya selalu teringat

mengucapkan namanya di luar kepala

merawatnya sambil mencabik-cabik hari

lalu kita mewarnai senja dengan

derai tawa dan

Di Satu Pojok Dago

Dinding kokoh berwarna dingin

dengan baris ornamen kayu 

lampu-lampu etalase

yang setia nyala

rak-rak dan kaca-kaca besar

dan sepatu-sepatu

Sindikasi materi


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler