Skip to Content

Gadis Jalang

Foto Joan Udu

GADIS JALANG, 1

 

Di perempatan kota, sepasang mata perempuan jalang menyala

senyum-senyum mungilnya hangus terbakar tanduk-tanduk kerisauan

dan gigi-gigi kesunyian yang dibawanya jauh dari dalam hatinya sendiri.

Dadanya adalah bara, tempat gerabah kesedihan dan keranda usia bertaut,

lalu mendidih jadi luapan-luapan pertanyaan liris

yang rasa-rasanya meremukkan jantungnya sendiri.

 

"Perempuan", katanya,

"hanyalah tangisan-tangisan kecil yang diciptakan lelaki"

 

Ingatannya melayang, membayang kembali lenguh nafas

dan geletar nafsu setiap lelaki yang pernah menghujamkan

tombak-tombak kecil ke dalam tubuhnya yang rengat.

Matanya seketika nyalang setelah tahu ada seribu telunjuk

yang bengal dan tak pernah merasa berdosa menuding ke jidatnya. 

 

"Ini perempuan jalang", teriak orang-orang itu,

"wajib hukumnya dirajam"

 

dan orang-orang mengumpulkan sekeramba batu,

sementara perempuan itu terus menarik nafas panjang:

ia sudah lupa cara menyelamatkan diri dari kesedihan.

 

Bola matanya bengkah, hampir pecah

di kepalanya serumpun ilalang berantakan

dan sungai batu-batu tinggal hitung detik menghajar rahangnya.

 

 

Di langit, matahari sudah mulai mengernyit

di hati perempuan itu, suara jerit semakin menyayat

dan keselamatan adalah jalan paling sunyi yang mesti dilaluinya.

 

GADIS JALANG, 2

"Ada yang datang, ada yang pergi;

hanya satu yang tinggal: tangis kecil perempuan"

 

"Tunggu, tunggu!", kata seorang lelaki kepada tua-tua di gelanggang

"yang pertama melontarkan batu adalah yang mengaku tak berdosa"

 

Maka satu per satu tua-tua itu menghilang

dan kelepak Maut yang sempat mendekat hanyalah kenangan.

 

GADIS JALANG, 3

"Siapakah namamu?", tanya perempuan kuyu itu

kepada lelaki yang menyelamatkannya dari kuku-kuku maut.

 

Lelaki itu tersenyum kecil: menenggak

pertanyaan demi pertanyaan perempuan itu.

 

"Aku adalah pertanyaan-pertanyaan

yang tak sempat dijawab lelaki kepada kekasihnya!

Aku datang dari tangisan-tangisan kecil perempuan!"

 

dan lelaki itu menghilang, lesak ke balik semua kerinduan.

 

GADIS JALANG, 4

Mengapa begitu lekas kau pergi?

 

Bekas-bekas senyummu belum bisa kuingat pasti

dan sisa senja kemarin masih tunggu di depan rumah.

Bukankah kita masih perlu bertemu?

 

akh, tunggu kau, akan kukecup dalam-dalam pipi kananmu besok pagi

sehabis kukecup dengan sabar pipi kirimu yang lugu!

 

Joan Udu, Penyair asal NTT dan Pemenang "ASEAN POEM 2017"

 

 

 

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler