Skip to Content

LELAKI LORENG, TERCORENG LERANG

Foto Dadox

untuk yang tidak dikenang, di '45 )

 

Dia, dalam himpitan gelisah dan sindiran kasar penolakan, garis wajahnya mengeras.

Sosok tubuh renta, tua.Keriput di wajahnya itu dipetakan oleh ringkih lintang dan rentang detik-detik epik yang hinggap waktu lalu.

Imaji terpapar garang, tapi mengaung lirih. Mirip ilusi

 

“saya lelaki loreng”,tuturnya bangga saat ditanyai satpam

waktu dia masuk rumah uang kemarin

waktu dia duduk disana

bersama puluhan pensiunan yang mengantri gaji

sama – sama bekas abdi bumi hijau ranum

Dialog yang tak adil!

Satpam berjidat lapang menanyai buku tabungan

menanyai kelengkapan administrasi

dan rangkaian hal seperti menginterogasi

Wanita cantik dari balik meja tertawa

beberapa cuma tersenyum

si Lelaki Loreng tertunduk, serasa diludahi

Puluhan pasang mata memergokinya

Perangai sangar itu, luruh diseruduk masa

 

Bocah tolol, umpatnya

padahal kemarin, mata kakiku diserempet pelor arisaka

kaliber 7.7mm nginap delapan hari dipaha kiri

Punggung sebelah kanan robek oleh serpihan nanas

Wajah bengkak diserang tawon

karena sembunyi di sarangnya dekat semak

saking takutnya pada derap sepatu berdatangan

Tidurku cuma beberapa detik

bangun lagi oleh darah yang muncrat diwajah

darah dari teman yang tidur disebelahku tadi

Istriku mati setelah bermenit-menit sekarat di tangan tetangga,

setelah rahangnya ditembaki dan kepalanya dikecup popor senjata

Anakku..ah, anakku! Anak kandungku jatuh lalu mati dalam jurang

waktu kampung disergap sebelum subuh.

Anakku, yang lahir oleh kesempatan yang kuperjuangkan.

ah,anakku yang ini!! sekarang menuntutku mengemasi segalanya.

Menggantinya dengan pengasingan abadi.

Sedang aku masih hidup, lalu bagaimana dengan nisanku nanti?

Anakku, yang menyentuh dunia dalam genggamannya di dunia baru ini 
Sekarang melupakan tulang dan gigi yang telah aku kubur bersama pondasi sejarah

Bersama darah, Kepulan asap dan kenangan
Bersama letupan mematikan yang senantiasa menggugah harapan
Anakku, anak dari anak-anakku 
Mereka yang dibesarkan atas birama pilu dari nadiku, 
Mengirimkanku lencana pengasingan yang mencekam

Lencana yang melambai di hari senin yang sudah tak pernah disentuh bendera
Lencana yang muncul tiap menjelang hari ke-tujuh belas di bulan ke-delapan

Ah! anakku yang ini. sekarang menuntutku mengemasi segalanya.

Menggantinya dengan pengasingan abadi.

Padahal, Sang Hyang Widhi mungkin saja masih memberiku hari yang kian berdatangan

lalu bagaimana dengan nisanku nanti?


Padahal, aku Lelaki Loreng

Meski tak tercatat lembaran buku
Meski tak ditorehkan oleh tinta dan ujung jari

Lelaki Loreng,

batinnya mengeluh


 

Malang, 2014

 


Mohon kritik dan saran yang membangun :)

Selamat menyimak, dan.... salam sastra!

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler